
MATAHARI pagi baru saja menyinari atap-atap rumah di sebuah kampung kecil Desa paseno dusun Simpo kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang. Namun, sinar itu tidak mampu menghangatkan hati Wulan sari seorang anak kelas 3 SD yang sedang duduk termenung di depan rumanya.
Di tangannya terdapat buku pelajaran yang mulai usang. Buku itu sudah berkali-kali ia baca, karena baginya sekolah adalah jalan untuk mengubah nasib keluarganya. Wulan Sari bercita-cita menjadi seorang guru agar kelak dapat membantu anak-anak yang mengalami kesulitan seperti dirinya. Namun, kenyataan hidup tidak seindah cita-citanya.
Ayah dan ibu Wulan sari hanyalah seorang buruh harian di desa bangkai Kecamatan Watang Pulu yang penghasilannya tidak menentu. Kadang ada pekerjaan, kadang tidak, mereka memliki 3 anak yang berpotensi putus harapan.
Suatu malam, ketika lampu rumah mulai dipadamkan, Wulan sari tanpa sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya.
“Apa kita masih mampu menyekolahkan Ke 3 Anak kita dengan keterbatasan ini?” tanya ibunya dengan suara bergetar.
Ayahnya terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Saya tidak tahu. Untuk makan besok saja kita masih bingung.”
Kalimat itu seperti petir yang menyambar hati Wulan.
Malam itu ia menangis dalam diam. Ia memeluk buku-bukunya erat-erat. Untuk pertama kalinya, ia merasa mimpinya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Hari-hari berikutnya terasa semakin berat.
Saat teman-temannya berbicara tentang sekolah dan cita-cita mereka, Wulan sari hanya tersenyum kecil. Dalam hatinya, ia mulai menerima kenyataan bahwa dirinya mungkin harus berhenti sekolah dan membantu orang tuanya mencari nafkah untuk keluarganya.
Sampai suatu siang, sebuah harapan datang mengetuk pintu rumahnya. Seorang pendamping sosial Program Keluarga Harapan (PKH) Sebut saja ibu Elvira, datang berkunjung melakukan penjangkauan calon siswa sekolah rakyat yang ada daftar prelist kepada keluarga-keluarga yang memiliki anak berisiko putus sekolah, dan berada dalam kategori strata sosial Desil 1 dan 2.
Mereka berbincang dengan orang tua Wulan dan mendengarkan seluruh kesulitan yang dialami keluarga itu. Kemudian mata menatap dengan tajam ke wajah mereka dengan nada penuh lembut, pendamping tersebut berkata,
“Bapak dan Ibu tidak perlu kehilangan harapan. Ada Program Sekolah Rakyat salah satu program prioritas bapak presiden Prabowo melalui kementrian Sosial yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Seluruh biaya pendidikan di Sekolah Rakyat akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Sosial. Komponen yang digratiskan meliputi biaya pendidikan dan pengajaran, fasilitas asrama, pakaian (sandang) dan konsumsi (pangan) sehari-hari, dan akomodasi peserta didik. Fasilitas penunjang di sekolah ini juga terbilang sangat lengkap, mulai dari laboratorium, perpustakaan, ruang komputer, tempat ibadah, sarana olahraga, hingga ruang kelas yang representatif.
Mendengar hal tersebut,
Wulan tersenyum kecil dalam hatinya ia masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-citanya.”
Mendengar kata-kata itu, Wulan dan ke 2 adiknya yang sedari tadi duduk di sudut ruangan langsung menatap penuh harap.
“Benarkah saya masih bisa sekolah?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
“Tentu, Nak,” jawab pendamping itu sambil tersenyum. “Masa depanmu belum berakhir.”
Air mata Wulan jatuh tanpa bisa ditahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan harapan kembali hidup dalam dirinya.
Wulan sangat berharap untuk diterima di Sekolah Rakyat, Ia melihat senyum bangga di wajah kedua orang tuanya. Senyum yang sudah lama tidak terlihat karena beratnya beban kehidupan.
Kemiskinan boleh membatasi keadaan, tetapi tidak boleh mematikan harapan. Dan ketika kesempatan datang melalui Sekolah Rakyat, mimpi yang hampir padam dapat menyala kembali, bahkan lebih terang dari sebelumnya.
Kami ingin memastikan gagasan sekolah rakyat dikenang sebagai peristiwa sejarah, saat harapan tidak lagi diwariskan sebagai masa lalu melainkan masa depan, dan kelak ketika anak-anak ditepian sungai, leren, bukit dan sudut-sudut negeri sejajar ditengah bangsa ini, orang akan berkata pelan, bahwa dimasa itu pernah ada seorang Presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat, dan Presiden itu bernama Jendral TNI Purnawan Prabowo Subianto’ Tutup Mentri sosial.
Oleh : Nuryadi S.H,MM (Ketua Tim SDM PKH Sidrap)


Tidak ada komentar