
TOLIKARA — Di tengah dunia yang diliputi konflik, krisis, dan ketidakpastian, Bupati Tolikara, Willem Wandik, mengajak seluruh masyarakat untuk kembali pada nilai paling mendasar dalam kehidupan: kemanusiaan.
Pesan itu disampaikan dalam momentum peringatan Jumat Agung 2026 sebuah hari suci yang tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa iman, tetapi juga sebagai panggilan moral bagi seluruh umat manusia.
“Jumat Agung bukan sekadar sejarah iman, tetapi panggilan kemanusiaan untuk memahami penderitaan, melihat pengorbanan, dan memperbarui cara kita hidup sebagai manusia,” demikian pesan yang disampaikan.
Di tengah realitas global yang diwarnai konflik bersenjata, krisis energi, migrasi besar-besaran, hingga ancaman perubahan iklim, Wandik menilai dunia saat ini sedang berada dalam fase kegelisahan yang serius. Namun, ia menegaskan bahwa iman tidak boleh kehilangan arah.
“Di tengah kegelapan, selalu ada harapan. Di tengah penderitaan, selalu ada jalan pemulihan,” pesannya.
Papua dan “Salib Kehidupan” yang Nyata
Jika dunia sedang bergejolak, maka Tanah Papua termasuk Tolikara juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dari persoalan keamanan, pengungsian masyarakat, keterbatasan layanan dasar, hingga tekanan ekonomi, semuanya menjadi bagian dari realitas yang disebut Wandik sebagai “salib kehidupan” masyarakat Papua hari ini.
Namun di situlah makna iman diuji. Bagi Wandik, salib bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.
Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari kekuasaan atau kekerasan, tetapi dari nilai-nilai universal yang diajarkan oleh pengorbanan Kristus: kasih, pengampunan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.
Seruan Menghentikan Kekerasan, Menguatkan Persatuan
Dalam konteks lokal, Bupati Tolikara menyerukan langkah konkret untuk membangun kemanusiaan yang lebih bermartabat:
• Menghentikan segala bentuk kekerasan
• Menolak kebencian dan perpecahan
• Menjaga persatuan di tengah perbedaan
• Melindungi kehidupan dan martabat manusia
• Menguatkan solidaritas sosial
Baginya, pembangunan tidak cukup hanya membangun infrastruktur. Pembangunan sejati adalah membangun hati manusia.
“Perdamaian tidak lahir dari kekuatan senjata, tetapi dari kekuatan hati yang mau saling memahami,” tegasnya.
Komitmen Pemerintah: Hadir untuk Kemanusiaan
Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Tolikara menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kebijakan yang berorientasi pada kemanusiaan:
• Memperkuat nilai religius dan kehidupan sosial
• Menjaga keamanan dengan pendekatan humanis
• Meningkatkan layanan kesehatan dan pendidikan, terutama di wilayah terpencil
• Melindungi kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan lansia
• Mendorong pembangunan yang merata hingga pelosok
• Membangun dialog dan rekonsiliasi sebagai jalan menuju perdamaian
Langkah-langkah ini diyakini sebagai fondasi untuk menciptakan Tolikara yang lebih damai, adil, dan bermartabat.
Dalam pesannya, Wandik juga menekankan bahwa pengorbanan bukan hanya milik tokoh besar, tetapi hidup dalam keseharian masyarakat:
Seorang ibu yang berjuang untuk anaknya,
guru yang mengajar di daerah terpencil,
tenaga kesehatan yang melayani tanpa lelah,
hingga petani yang bekerja demi keluarga—
semuanya adalah wujud nyata kemanusiaan.
Ia pun mengajak masyarakat untuk melakukan refleksi: apakah kita sudah hidup sebagai manusia yang saling mengasihi, menghormati, dan membawa damai?
Karena, menurutnya, perubahan besar tidak dimulai dari tempat jauh melainkan dari hati manusia itu sendiri.
Menutup pesannya, Bupati Tolikara mengajak seluruh masyarakat menjadikan Jumat Agung sebagai momentum memperkuat iman, memperluas kasih, dan menjaga persatuan.
Sebuah pesan sederhana namun kuat:
Kasih lebih kuat dari kebencian.
Pengampunan lebih kuat dari dendam.
Dan harapan lebih kuat dari ketakutan.
Dari Tolikara, pesan itu menggema bahwa di tengah amarah dan peperangan, kemanusiaan tetap harus menjadi jalan utama.


Tidak ada komentar