Sidrap Perkuat Status Lumbung Telur, Sinergi Peternak dan Pemerintah Kejar Target 10 Juta Ayam Petelur

Redaksi
13 Mar 2026 14:47
DAERAH 0 4
3 menit membaca

SIDRAP — Kabupaten Sidrap terus memperkuat posisinya sebagai pusat produksi telur di kawasan timur Indonesia.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, peternak, pedagang, dan berbagai pemangku kepentingan, langkah besar tengah disiapkan untuk mendorong kemajuan sektor peternakan ayam petelur hingga mencapai target 10 juta ekor dalam beberapa tahun ke depan.

Komitmen tersebut disampaikan oleh Bupati Syaharuddin Alrif saat menghadiri kegiatan bersama para peternak dan pedagang telur yang juga dihadiri anggota DPRD Sidrap dari Komisi II lokasi PT Cahaya Tiga Putri Mario, Kecamatan Kulo, Jumat, 13 Maret 2026.

Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai strategi penguatan sektor peternakan, mulai dari stabilitas harga hingga perluasan pasar.

Setiap pekan, tepatnya pada malam Rabu dan malam Sabtu, para pedagang dan peternak melakukan pertemuan untuk menentukan harga telur secara bersama berdasarkan kesepakatan.

Pada pertemuan terakhir, harga telur ditetapkan sebesar Rp53 ribu per rak. Mekanisme ini menjadi bentuk sinergi antara pelaku usaha agar harga tetap stabil dan menguntungkan semua pihak.

Saat ini populasi ayam petelur di Sidrap tercatat sekitar 5.117.000 ekor. Pemerintah daerah menargetkan peningkatan populasi menjadi 6,5 juta ekor pada tahun 2026, sebagai langkah awal menuju target besar 10 juta ekor ayam petelur.

Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produksi sekaligus memperkuat posisi Sidrap sebagai lumbung telur di Sulawesi Selatan.

Di tingkat nasional, Sulawesi Selatan tercatat sebagai daerah dengan jumlah peternak telur terbanyak keenam di Indonesia, sementara Sidrap menjadi daerah utama penghasil telur di provinsi tersebut.

Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong penguatan branding “Sidrap Lumbung Telur” sebagai identitas ekonomi daerah.

Strategi yang disiapkan tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperluas pasar.

Permintaan telur dari luar daerah seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur terus meningkat. Bahkan, beberapa daerah di luar Sulawesi mulai melirik Sidrap sebagai pemasok utama kebutuhan telur.

Momentum lain yang dilihat sebagai peluang besar adalah program makan bergizi nasional yang menghadirkan sekitar 820 dapur di Sulawesi Selatan dengan total anggaran mencapai Rp2,7 triliun per tahun.

Program tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 24 juta butir telur setiap bulan dengan nilai perputaran sekitar Rp43 miliar per bulan atau sekitar Rp518 miliar per tahun.

Pemerintah Sidrap menargetkan setidaknya 60 persen dari potensi pasar tersebut dapat dipenuhi oleh peternak lokal, atau sekitar Rp300 miliar per tahun.

Selain itu, penguatan peternak kecil dan menengah juga menjadi perhatian utama. Pemerintah mendorong akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar para peternak mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperbaiki manajemen usaha.

Upaya memperkuat sektor peternakan ini diyakini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif.

Dengan potensi pasar yang terus berkembang, sektor ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah hingga menembus angka 10 persen, tertinggi di kawasan Indonesia Timur.

Dengan sinergi pemerintah, peternak, pedagang, dan dukungan pasar yang luas, Sidrap optimistis dapat mempertahankan bahkan memperkuat posisinya sebagai lumbung telur nasional sekaligus motor penggerak ekonomi daerah. (ibe)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x